Hukum  

Kasus Suap Dana Hibah, KPK Periksa 12 Orang Saksi 7 di Antaranya Mantan Anggota DPRD Jatim

Jubir Baru KPK Tessa Mahardika. (Istimewa)

JAKARTA, Cinews.id – Komisi Penyidik Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa 12 saksi untuk mendalami dugaan suap dalam pengurusan dana hibah di Jawa Timur (Jatim) hari ini, Senin (11/11/2024).

“Pemeriksaan dilakukan di Kantor BPKP perwakilan Provinsi Jatim,” kata Juru Bicara KPK Tessa Mahardhika Sugiarto melalui keterangan tertulis, Senin (11/11/2024).

Tessa memerinci inisial 12 saksi, yakni RWK, ADP, WS, FSO, H, AAS, AR, AHF, AR, AS, AA, dan AH. Berdasarkan informasi yang dihimpun Cinews.id, tujuh di antara mereka merupakan mantan anggota DPRD Jatim.

Mereka adalah Achmad Amir Aslichin, Adam Rusydi, Aditya Halindra Faridzky, Agatha Retnosari, Agung Supriyanto, Ahmad Athoillah, dan Ahmad Hadiduddin. Mereka semua diharap memenuhi panggilan penyidik.

KPK menetapkan 21 tersangka dalam perkara ini. Sebanyak empat orang berstatus penerima suap dan 17 lainnya pemberi.

Sebanyak tiga tersangka penerima berstatus penyelenggara negara dan satu sisanya staf pejabat. Sementara itu, 15 tersangka pemberi merupakan pihak swasta. Dua sisanya berstatus sebagai penyelenggara negara.

Kasus ini sebelumnya menjerat mantan Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Sahat Tua Simanjuntak. Dia sudah dinyatakan bersalah dan divonis sembilan tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Surabaya, Selasa, 29 September 2023.

Sahat didakwa bersalah menerima suap dana hibah Pemprov Jatim senilai Rp39,5 miliar.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Sahat T Simanjuntak dengan penjara selama 9 tahun,” kata Ketua Majelis Hakim I Dewa Suardhita.

Vonis 9 tahun penjara ini lebih rendah daripada tuntutan jaksa KPK. Pada sidang sebelumnya 8 September, Sahat dituntut jaksa 12 tahun penjara.

Selain vonis penjara 12 tahun, terdakwa Sahat juga dikenai denda Rp1 milliar subsider 6 bulan. Politisi Partai Golkar tersebut juga diwajibkan membayar uang pengganti senilai Rp39,5 miliar.

Apabila tidak mampu membayar, harta benda terdakwa akan disita jaksa untuk dilelang dan hasilnya diserahkan negara. Jika hartanya tidak mencukupi maka harus diganti dengan pidana penjara selama 4 tahun.